Catatan Putra Melayu Seputar Pilgubri 2018

# Ton Abdillah Has, putra melayu Riau

Lantangriau.com – Meski belum ditetapkan KPUD Riau, nampaknya keempat pasang cagub dan cawagub yang telah mendaftar bakal melenggang dalam kontestasi Pilgubri 2018. Cukup banyaknya kandidat yang bertarung, di satu sisi tentu memberikan ruang bagi keleluasaan pilihan masyarakat, namun di sisi lain bisa menambah apatisme jika keempat pasang calon tanpa diferensiasi program, hanya sekedar berbeda background daerah asal, parpol pengusung dan latar karir personal.

Meski terlalu dini untuk menyimpulkan, namun nampaknya secara programatik, agenda para cagubri masih memperlihatkan narasi normatif, jargonik, belum terjelaskan dalam agenda-agenda dedikatif yang terukur guna mencapai idealitas yang disebut dalam visi misi masing-masing. Padahal, seabrek problem rakyat Riau, amat memerlukan visi besar yang dapat dibumikan lewat sejumlah agenda ambisius yang secepatnya mampu menjawab persoalan, serta mengakumulasi antusiasme rakyat dalam membangun Riau bersama pemimpin barunya kelak. Sebuah soal tentang, how the vision does..

Rakyat Riau sudah terlalu lama menderita, baik secara ekonomi, sosial, politik, bahkan kebudayaan. Tanpa perlu merujuk statistik kesejahteraan, lapangan kerja, indeks sumber daya manusia, infrastruktur, distribusi lahan, dan lain-lain, cukup lah jelas bahwa apa yang saat ini dinikmati rakyat Riau tidak lah sebanding dengan potensi yang dimilikinya. Kaya secara sumber daya alam, subur tanahnya, strategis di kawasan, salah satu pusat melayu nusantara, serta menjadi basis operasi sejumlah korporasi besar nasional dan trans-nasional.

Situasi objektif tersebut, tentu membutuhkan langkah nyata dan berani agar realitas bisa bergerak menuju idealitas. Dibutuhkan kecermatan memilah potensi yang patut dikedepankan dalam politik anggaran, keberanian diplomasi dan negosiasi agar keberpihakan pemerintah pusat bertambah dan investasi berdatangan, serta keberanian melakukan terobosan.

Hemat penulis, pembangunan sektor pertanian dan perkebunan, industri hasil pertanian, serta perdagangan dan jasa merupakan sektor-sektor yang secara signifikan bisa berdampak bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pra-syaratnya tentu pembangunan infrastruktur, reformasi birokrasi, regulasi daerah dan peningkatan sumber daya manusia.

Tanpa menafikan sektor lainnya, namun rasanya berpaling dari perkebunan sawit adalah sebuah kesombongan. Sawit adalah perpaduan solutif bagi problem energi dan pangan, dan dunia barat telah memandang sawit Indonesia yang berpusat di Riau sebagai ancaman bagi hemegomoni mereka di bidang energi dan pangan. Pertanyaan paling sederhananya tentu, seberapa signifikan perkebunan sawit rakyat berbanding korporasi besar? Mampukah Riau menjadi sentra industri produk turunan sawit agar tak sekedar menjadi ekaportir CPO? Serta, sampai kapan sawit Riau, serta Indonesia pada umumnya, menjadi price taker bukannya price maker?

Pilbugri terang lah bukan sekedar rutinitas demokrasi lokal, bukan pula agenda elit yang menjadikan masyarakat sebagai objek semata, objek pemasangan spanduk, baliho, kaos dan mobilisasi dukungan (semoga tanpa politik uang). Pilgubri adalah momentum konsolidasi demokrasi bagi masa depan negeri Melayu bernama Riau, tak sekedar aktornya, namun juga dialektika gagasannya bagi perbaikan nasib rakyat Riau ke depan.

*Penulis Adalah Pendiri Pijar Melayu*

Loading Facebook Comments ...
Loading Disqus Comments ...