NU Dan Muhammadiyah Sudah Saatnya Mengambil Peran TErdepan Memerangi Radikalisme

Momentum Muktamar NU dan Muhammadiyah Sudah Saatnya Mengambil Peran Terdepan dalam Memerangi Radikalisme di Indonesia

Setiawan, S.Si*

Satu dekade terakhir persatuan umat menunjukkan kualitas yang semakin memburuk. Suasana damai saling penuh penghargaan antar umat yang dulunya terasa begitu hangat, kini mulai berganti dengan rasa saling curiga, bahkan tak jarang saling caci dan tuduh. Kondisi ini tentunya menjadi suatu keperihatinan bagi kita bersama, mengingat kerukunan antar umat memegang peranan penting terhadap terwujudnya negara yang kokoh. Akibat dari itu semua negara harus turut serta mencurahkan segala daya upayanya demi menjaga ancaman perpecahan.

Ancaman perpecahan diantara umat tidak pernah bisa dianggap sebagai hal sepele. Belajar dari negara negara arab di timur tengah yang sedang mengalami perang saudara yang hingga kini tak kunjung ada habis habisnya. Tak pernah akan bisa ditakar berapa banyak kerugian yang diakibatkan dari perang saudara seperti yang terjadi di timur tengah jika sampai terjadi di negeri ini.

Cukup beralasan sekiranya kita mengkhawatirkan dan menganalogikan apa yang terjadi dinegeri-negeri arab dengan ancaman yang juga sama sedang mengancam kesatuan ummat di negeri yang dulu terkenal akan sopan santun dan keramahannya oleh bangsa lain.

Badai konflik dan perang saudara di timur tengah bisa dijadikan pijakan berfikir bagi kita untuk sedini mungkin memulai langkah langkah penangan yang tepat, yang tentunya disesuaikan dengan kondisi bangsa yang sesungguhnya memiliki potensi kompleksitas lebih dibandingkan dengan apa yang terjadi di timur tengah.

Gelombang perang saudara yang sedang melanda negeri negeri arab terjadi pada umat yang masih memiliki kebudayaan yang  bisa dikatakan sama, dan memiliki satu akidah yang sama pula, karena mereka berperang dengan sesama umat muslim. Memang tidak serta merta atas dasar pijakan itu lantas kita mengatakan konflik di timur tengah lebih sederhana. Kita tahu bersama bahwa bangsa arab juga memiliki sebuah tradisi penyelesaian masalah dengan jalan perang.

Indonesia bukanlah bangsa yang memiliki tradisi seperti bangsa arab, tradisi yang tumbuh di bangsa ini justru bertolak belakang dari tradisi yang dimiliki oleh bangsa arab. Walaupun bangsa ini dikaruniai keberagaman adat dan budaya, namun kita turut merasa bangga bahwa bangsa ini memiliki sejarah kerukunan umat yang sangat baik, sekalipun bangsa ini terdiri dari berbagai macam umat dengan keyakinan yang beragam.

Namun sayangnya bangsa Indonesia yang memiliki sejarah kerukunan yang baik antar umat beragama, tidak serta merta membuat semua suka dan menerima. Beberapa golongan dan kelompok tertentu tidak ingin melihat bangsa ini hidup rukun dan tentram. Mereka justru mencari dan menciptakan cara untuk menimbulkan kegaduhan dan kecurigaan antar umat yang selama ini telah terbangun dengan baik.

Gangguan gangguan dari kelompok golongan inilah yang menjadi ancaman sesungguhnya terhadap persatuan umat. Mereka menebarkan virus kebencian dan kecurigaan tidak hanya dikalangan umat yang berlainan akidah, namun justru gangguan itu lebih massif terhadap umat yang memiliki akidah yang sama, seperti halnya ancaman perpecahan umat islam sendiri yang notabene nya memiliki jumlah mayoritas di negeri ini.

Beberapa kejadian yang sudah sudah, diperoleh fakta bahwa umat islam indonesia saja hari ini sudah saling merasa curiga antara satu dengan lainnya, antara jemaah satu dan jemaah lainnya. Bahkan tidak jarang mereka saling menebar fitnah antar jemaah. Dari fakta tersebut menunjukkan toleransi di internal umat islam indonesia saja sudah mulai luntur.

Rendahnya toleransi di internal umat islam merupakan ancaman yang sangat nyata, jika dibiarkan akan menjadi bom waktu perpecahan yang mengancam persatuan, dan tentu saja akan menjadi sebuah peluang untuk terjadinya gelombang pertikaian. Klaim golongan tertentu yang selalu merasa dirinya paling benar inilah sesungguhnya ancaman yang harus disikapi secara tepat bila perlu sudah mulai untuk diredam, negara dalam hal ini pemerintah mau tidak mau harus turun tangan jika tidak mau dikemudian hari terjadi gelombang perang saudara seperti di timur tengah.

Bukan tidak mungkin itu terjadi di negeri ini, pasalnya gelombang radikalisme islam di negeri ini sudah menyentuh level berbahaya. Contoh kongkritnya adalah, pada hari ini kita sudah mulai mudah menemui para ustad dan dai di masjid masjid besar yang apabila menyampaikan khutbah dan ceramahnya dengan begitu mudahnya mengkafir kafirkan saudaranya sendiri yang seiman. Bahkan bukan hanya seiman tapi juga sebangsa dan setanah air. Bisa kita fikirkan dan menarik kesimpulan apa dampak yang akan terjadi beberapa tahun yang akan datang jika tidak segera berbenah menghadapi ancaman perpecahan yang sudah mengintai didepan mata kita.

Belajar dari sejarah kerukunan dan toleransi sesama umat islam di Indonesia tidak bisa lepas dari pengaruh Nahdatul Ulama dan Muhammadiyah, sebagai ormas islam terbesar dan sekaligus tertua dalam mengawal dan membina umat, serta menjaga kerukunan antar umat bergama di Indonesia. Kita harus banyak belajar dari sejarah kerukunan umat di bangsa ini.

Momentum Muktamar yang kebetulan hampir bersamaan antara Nahdatul Ulama dan Muhammadiyah sudah seharusnya dijadikan semangat bersama untuk memikirkan solusi persatuan keummatan di negeri ini yang sudah mulai memudar, kedua ormas tersebut harus mampu membentengi umat islam indonesia dari semua potensi ancaman bagi berkembangnya paham paham radikalis yang membahayakan persatuan.

Sebagai ormas islam yang tidak diragukan perannya selama berpuluh puluh tahun dan turut mengawal merebut kemerdekaan Indonesia, tentunya umat islam di Indonesia secara keseluruhan menggantungkan harapan besar kepada dua ormas besar yang memiliki track record baik dalam menjaga persatuan, untuk lebih serius dalam menangani persoalan persoalan keummatan, khsusunya mencegah dan menangani persoalan radikalisme dengan banyak terjun langsung ke masyarakat melalui program dakwahnya secara berkelanjutan dan massif.

Ukhuwah wathaniah mampu terjaga ritmenya jika Nahdatul Ulama dan Muhammadiyah sebagai ormas islam terbesar juga mampu menjaga ukhuwah islamiyah di negeri yang terkenal ramah dan gotong royongnya ini.

Akhirnya sampailah pada sebuah kesimpulan bahwa, islam sebagai agama mayoritas di negeri ini sudah selayaknya harus mampu tampil sebagai pengatur ritme kerukunan antar umat beragama, sehingga mampu menciptakan ukhuwah wathaniah atau rasa persaudaraan sesama warga bangsa dengan baik. Sehingga jika ini mampu terwujud, maka sangat besar kemungkinan ukhuwah wathaniah inilah yang menjadi tedeng aling aling segala macam ancaman perpecahan yang mengintai negeri yang memiliki keberagaman agama, adat, suku dan budaya. Wallahua’lam bissawab.

Oleh : Setiawan, S.Si
*Penulis adalah Wakil Sekretaris Umum PMD KAHMI Pekanbaru

Loading Facebook Comments ...
Loading Disqus Comments ...