Perkuat SDM MPA Dapat Atasi Kebakaran

Kebakaran hutan di Indonesia terus terjadi sepanjang tahun. Luasan areal yang terbakar tidak dapat dibilang sedikit. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sejak Juli 2015 akibat kebakaran telah menghanguskan 2,1 juta hektar hutan dan lahan gambut.

Luas tersebut setara dengan 1,9 juta luas lapangan sepak bola atau mencapai 32 kali luas Jakarta atau setara luas empat kali pulau Bali. Selain luasan lahan terbakar yang harus disadari adalah bahaya dari dampak kebakaran tersebut.

Hampir semua sektor terkena dampaknya. Jutaan orang terpapar asap kemudian menyebabkan gangguan kesehatan. Sudah entah berapa banyak yang terkena ISPA bahkan meninggal dunia. Dari segi ekonomi tentu saja terjadi kerugian hingga puluhan triliun rupiah. Tahun lalu di provinsi Riau saja diperkirakan kerugian ekonomi mencapai 22 triliun rupiah.

Para petani juga ikut terkena imbas karena produksi sawit menurun derastis akibat asap. Bagaimana tidak, hewan yang membantu penyerbukan benang sari terganggu akibat adanya asap. Sehingga proses pembuahan sawit terjadi tidak sempurna.

Dari persebaran titik api, diantaranya 30 persen berada di kawasan hutan non konsesi, 20 persen di perkebunan kepala sawit, serta 20 persen di area lainnya. Tentu saja sebagian ada juga yang terjadi disekitar pemukiman warga.

Selama musim asap tahun ini banyak tuntutan warga agar kebakaran yang menghasilkan asap dapat segera dituntaskan. Banyak cara sudah dilakukan untuk mengatasi persoalan ini. Tahun lalu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pernah menginstruksikan seluruh perusahaan wajib membentuk kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA) di wilayah konsesinya. Tujuannya agar jika terjadi kebakaran dapat segera ditangani tanpa harus menunggu bantuan.

Semua perusahaan pun sibuk membentuk MPA. Anggotanya adalah warga desa di sekitar area oprasi perusahaan masing-masing. Mereka dilatih cara memadamkan api, mulai cara menggunakan alat pemadam kebakaran hingga teknik pemadamannya.Tapi, tahun ini peran MPA yang sudah terbentuk tidak terdengar kiprahnya dalam mengatasi persoalan ini.

Ada banyak faktor mengapa MPA tidak ambil peran. Pertama, pembentukan MPA tidak dibarengi dengan pemberian alat yang mumpuni untuk padamkan api. Kedua, MPA tidak dikelolah secara baik oleh perusahaan yang membentuknya. Ketiga , oprasional MPA tidak disokong pendanaan dari perusahaan atau pemerintah. Puncak dari ketiga faktor tersebut adalah sumber daya manusia yang dimiliki MPA sangat lemah dan tak berdaya.

Saya berpikir kalau sumber daya manusia MPA diperkuat maka, dapat mengurangi persoalan kebakaran untuk jangka panjang. Paling tidak kita punya instrumen penanggulangan kebakaran yang bisa bergerak cepat saat terjadi kebakaran lahan dan hutan.

Tentu saja sudah ada bukti konkrit MPA yang berhasil menekan angka kebakaran. Saya punya contohnya, yaitu MPA di Desa Harapan Jaya, Kabupaten Inhil, Riau. Desa Harapan Jaya memiliki luas 4.000 ha di tepi sungai Indragiri. Secara umum merupakan kawasan gambut. Dengan wilayah perkebunan 40 persen.

MPA di desa ini tentu saja jauh berbedah dibandingkan MPA lain. Mereka mendapat pembinaan dari Sekretariat ASEAN dengan dukungan Komisi Uni Eropa, melalui sebuah program bernama Sustainable Peatland Management in South East Asia (SEApeat) Project. Program ini melibatkan masyarakat dalam upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan khususnya kawasan gambut di 10 negara ASEAN.

Di Indonesia dilaksanakan di Provinsi Riau tepatnya di Desa Harapan Jaya. Yayasan Mitra Insani (YMI) menjadi implementornya.

Di Desa Harapan Jaya mereka mengembangkan sebuah konsep pengelolaan kawasan gambut yang berkelanjutan berbasiskan masyarakat dalam upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan serta peningkatan ekonomi masyarakat.

Kelompok MPA mendapat pembinaan secara serius. Bukan sekedar pelatihan satu hari tapi, juga didampingi serta dipersiapkan bagaimana agar kemudian hari mereka dapat mandiri menjalankankan fungsinya.

MPA yang tangguh mulai dipersiapkan dengan menanamkan kesadaran pada anggotanya tentang bahaya membakar lahan. Lalu, dibekali teknik pemadaman dan diberi alat pemadam yang mampu mengatasi kebakaran. Sedikitnya mereka punya empat mesin air bertekanan tinggi.

Untuk menopang oprasional MPA menanam nanas seluas 12 hektare. 40 persen dari hasil tanaman nanas akan digunakan untuk keperluan MPA. Sehingga ada atau tidak ada yang membiayai MPA Harapan Jaya akan terus beroprasi. Mereka mampu membiayai diri mereka sendiri.

Hingga kini MPA tersebut masih aktif menjaga wilayahnya dari kebakaran. Bahkan saat desa tetangga ada kebakaran lahan MPA Harapan Jaya sigap membantu padamkan api. Sejak dibentuk satu tahun lalu, titik api di Harapan Jaya sama sekali tidak ada. Hal tersebut dapat terjadi karena kualitas sumber daya manusia MPA ditingkatkan dengan sangat signifikan.

Selain dibekali pemahaman tentang memadamkan api, mereka juga diajarkan menggunakan sistem informasi yang baik. Mereka membuat radio komunitas, fungsinya untuk menyebarkan peringatan jangan membakar lahan pada masyarakat luas. Kalau terjadi kebakaran radio digunakan untuk memberikan info kepada warga lain. Bisa dibilang radio digunakan sebagai peringatan dini saat ada percikan api.

Kini MPA Harapan Jaya sudah mandiri. Mereka tetap menjalankan fungsinya sepanjang hari. Setiap hari dilakukan patroli api dengan jadwal piket yang sudah diatur rapi. Mereka melakukan semua itu tanpa dibayar. Mengapa MPA Harapan Jaya mampu bergerak tanpa gelontoran dana dari funding? Karena SDM dipersiapkan dengan sangat baik berbeda dengan MPA lainnya.

Keberadaan MPA Harapan Jaya adalah contoh nyata bahwa MPA dapat menjadi salah satu solusi atasi kebakaran di tahun-tahun yang akan datang. Tentu saja dengan syarat, SDM anggota MPA harus ditingkatkan hingga pada level mandiri. Mereka bergerak bukan atas perintah siapa pun melainkan, kesadaran masing-masing.

Kembali kita harus ingat bahwa dalam mengembangkan SDM untuk organisasi non profit seperti MPA yang harus dilakukan tidak hanya pengembangan manusia sebagai sumber daya fisik tapi juga harus dikembangkan manusia sebagai sumber daya mental. Dalam kata lain mereka tidak dapat hanya dibekali kemampuan melakukan sebuah pekerjaan melainkan harus dikembangkan akal dan budinya. Supaya mereka mampu membentuk budayanya sendiri.

Jamaran. SE
Mahasiswa Pascasarjana Magister Manajemen Universitas Riau

Loading Facebook Comments ...
Loading Disqus Comments ...