Setiawan : “Kita Harus Segera Bersepaham Bahwa Indonesia Bangkrut?!”

“Kita Harus Segera Bersepaham Bahwa Indonesia Bangkrut?!”

Oleh : Setiawan, S.Si

Pasca reformasi adalah era bagi tumbuh suburnya kebebasan pada segala aspek. Era ini memberikan ruang yang tak terbatas terhadap kebebasan dalam segala hal, terlebih lagi kebebasan dalam meyampaikan pendapat dan berserikat. Era ini juga dipahami sebagai sebuah era kemerdekaan untuk berekspresi. Dan entah mengapa pada masa itu juga seluruh rakyat Indonesia begitu yakin bahwa era ini seolah olah menjadi jawaban dari harapan akan kemakmuran dan kesejahteraan yang gagal terwujud, sehingga semua elemen masyarakat mengalami euphoria yang luar biasa. Hal ini wajar saja terjadi karena paska lengsernya Presiden Soeharto yang berkuasa selama 32 tahun rakyat Indonesia merasa begitu yakin dan menganggap bahwa Soeharto telah gagal membawa Bangsa ini kepada cita-cita founding father bangsa. Semua rakyat sepakat untuk mencaci dan menghakimi Soeharto sebagai sumber dari segala sumber kegagalan pencapaian Indonesia yang adil makmur loh jinawi.

Semangat baru itupun sudah kita jalani bersama, tujuh belas tahun telah berlalu sudah kita rasakan sebuah era yang pernah kita anggap sebagai sebuah harapan baru untuk menatap masa depan bangsa kearah yang lebih baik. Kita pun telah melewati dan merasakan pahit dan manisnya dalam perjalanannya, pro kontra sudah bermunculan terhadap indikator apa yang bisa dijadikan tolok ukur keberhasilan era ini dalam membawa Indonesia lebih baik dari era sebelumnya. Banyak yang sepakat bahwa Indonesia semakin dekat dengan cita cita fouding father walaupun bisa dikatakan sebenarnya indikator keberhasilan yang digunakan dalam pendapat ini masih sangat absurd, pun juga tidak sedikit yang mengatakan bahwa era ini tidak lebih baik dari era orde baru. Fakta ini menunjukkan sudah munculnya perbedaan pandangan terhadap keberhasilan era reformasi setelah melewati tujuh belas tahun menunggu asa dan harapan yang sama-sama dinantikan itu.

 Perbedaan pandangan terhadap kondisi kekinian itu tidak hanya muncul dikalangan elit politik dan mahasiswa yang menjadi roda penggerak lahirnya reformasi, rakyat juga sudah mulai pandai dalam menimbang nimbang indikator mana yang menurut mereka sesuai untuk digunakan sebagai tolok ukur kesejahteraan diantara dua era terakhir yang telah dijalani. Setelah sekian jauh melangkah rakyat ternyata mulai kehilangan harapan dan kepercayaan untuk membawa mereka mendekat kepada cita cita yang diharapkan.

Mungkin ada benarnya jika apa yang dirasakan rakyat selama tujuh belas tahun berlalu menjalani bahtera era reformasi ini belum dirasakan sebagai sebuah masa yang lebih baik jika dibandingkan masa sebelumnya. Rakyat lah sesungguhnya yang menjadi sisi terdepan untuk paling pertama bisa merasakan perbedaan diantara kedua era itu. Barangkali semua setuju bahwa pada hari ini jumlah lahan pertanian di negeri ini semakin hari semakin berkurang secara drastis, karena para petani hari ini lebih memilih mengalihfungsikan lahan pertaniannya dan sebagian besar dari mereka justru memilih untuk mengadu nasib untuk merantau pergi ke kota, kondisi ini sangat bisa dipahami karena Negara tidak pernah lagi dirasa mampu hadir untuk membela nasib mereka sebagai petani, profesi sebagai seorang petani di Negeri ini akhir akhir ini tidak pernah diminati lagi oleh masyarakat karena profesi ini sudah tidak mampu lagi menjawab tantangan kebutuhan ekonomi masyarakat, sektor penting yang selalu dianggap remeh dan tidak pernah mendapatkan jaminan harga jual yang pasti dan sesuai. Hal ini merupakan imbas dari kebijakan pemerintah yang hanya memikirkan solusi devisit pangan nasional jangka pendek saja. Rasio antara supplay dan demand pangan nasional terutama sembako semakin hari semakin mengkhawatirkan, sayangnya ini tidak serta merta diselesaikan dengan kebijakan yang tepat pada sektor pertanian nasional, ancaman kelangkaan pangan ini hanya diselesaikan dengan kebijakan impor pangan yang semakin hari semakin tak terbendung, imbasnya sebagian besar petani lokal gulung tikar karena tidak mampu bersaing dengan harga pangan impor. Paska runtuhnya orde baru, kita terlalu latah menduplikasi strategi pembangunan nasional negara negara industri maju di barat, skala prioritas pembangunan nasional pun berubah. Sektor pangan nasional tidak lagi mendapat perhatian serius, pertanian menjadi sektor yag ditinggalkan.

Benarkah negeri tersubur di dunia yang membentang dari sabang sampai merauke pada hari ini dapat sewaktu waktu terancam kelaparan? Tidak akan pernah lupa rasanya bahwa negeri subur ini juga pernah berswasembada pangan, namun tidak demikian sekarang, ironis sekali negeri subur yang kaya raya ini dikemudian sewaktu waktu kapan saja bisa terancam kelaparan karena menggantungkan hajat hidup pangannya dari bangsa lain. Negara ini terkesan seperti salah urus karena telah gagal mewujudkan harapan rakyat yang selama ini telah mereka tunggu dan nantikan, bahkan untuk hanya sekedar urusan perut rakyatnya sendiri negara belum mampu menjamin. Pertanyaannya siapa yang patut dipersalahkan dan dimintai pertanggung jawabannya? Apakah kita terlalu larut dalam euphoria dengan sebuah era baru yang kita anggap mampu menyelesaikan segala macam perbaikan disegala lini bisa terwujud dengan sendirinya? Apakah setelah kita jauh melangkah kita yakin masih pada track reformasi yang benar? Negara ini masuk dalam era penjajahan baru jika kita tidak bersepakat untuk mengatakan bahwa antara kondisi hari ini dan cita cita bangsa Indonesia yang sejahtera adil dan makmur justru semakin jauh panggang dari api. Fakta ini harus sama sama disepakati bahwa Negara ini terancam bangkrut.

Kondisi hari ini menunjukkan bahwa kita masih jauh dari kata sepaham terhadap kesimpulan bahwa Negara ini hampir bangkrut selama menjalani masa bulan madu yang begitu panjang diera reformasi. Selama tujuh belas tahun belakangan ternyata kita tidaklah punya konsepsi skala prioritas pembangunan yang jelas. Selama tujuh belas tahun pula para elit yang diberikan mandat untuk menjalankan reformasi di negeri ini seperti kehilangan ingatan dan kesadarannya, bak harimau yang terbiasa terkungkung di dalam kandang selama masa orde baru dan tiba tiba dilepas di padang rumput yang penuh dengan kijang dan rusa diera reformasi, yang terjadi adalah era ini dijadikan arena berburu mangsa sepuas dan sekenyang kenyangnya, begitulah analogi yang mungkin tepat terhadap fakta dan kondisi terkini yang kita rasakan bersama. Bagaimana tidak, era ini justru melahirkan keserakahan yang tak terkendali. Era ini justru melahirkan sumber masalah baru, terjadinya perampokan besar besar an akan Sumber Daya Alam (SDA). Eksekutif dan Legislatif tidak seiring sejalan, Yudikatif sudah kehilangan kepercayaan dari rakyat. Tak sampai hanya disitu saja, Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) pun seolah begitu mudahnya diutak atik oleh kelompok yang memiliki akses kekuasaan untuk dijarah sebanyak mungkin. Sumber daya alam migas maupun non migas tidak kalah seksinya sebagai incaran untuk dieksplorasi sebisa mungkin seluruhnya oleh oknum oknum yang memiliki akses dengan kekuasaan baik dari eksekutif, legislative maupun yudikatif, semuanya seolah begitu menjadi kesempatan yang tak akan pernah datang dua kali, semua menjarah, semua terkesima dengan karunia sumber daya alam yang begitu melimpah, seolah hanya mereka yang berhak menikmati tanpa harus memikirkan generasi mendatang. Tidak cukup sampai disini saja penjarahan ini berhenti, yang terjadi kemudian lahan lahan konsesi sumber daya alam yang sudah sah secara hukum dimiliki oleh oknum oknum tersebut tidak serta merta dieksplorasi oleh pengusaha pengusaha pribumi, izin izin konsesi justru dijual kepada asing, ironis dan sangat menyedihkan. Era yang menjadi harapan bagi rakyat untuk hidup lebih baik tenyata dihianati oleh para pemegang mandat rakyat. Amanat reformasi yang diharapkan kemudian muncul hanya sebagai harapan kosong.

Amanat reformasi ternyata hanya sakral digunakan untuk menjatuhkan orde baru, hari ini kesakralan itu tidak lebih hanya sekedar bumbu bumbu pemanis janji janji politik para penghianat mandat rakyat. Dengan kondisi penjarahan kekayaan yang dikarunia oleh Tuhan secara massif dan terus menurus selama tujuh belas tahun era ini kita jalani, mestinya kita sebagai warga Negara kelas satu yang tidak pernah diragukan rasa nasionalisme dan integritasnya sepakat untuk satu jawaban menjawab pertanyaan pertanyaan yang sudah seharusnya kita jawab dengan segera berikut ini, sudahkah kita bersepaham terhadap kondisi yang terjadi pada hari ini adalah justru sesungguhnya jauh dari cita cita reformasi? Sudahkah kita bersepaham untuk segera sadar dan memperbaiki keadaan yang akan mengundang bencana ini? Kemanakah perginya para agent of change yang kita banggakan para mahasiswa/mahasiswi yang dengan gagah berani bermodalkan idealisme sampai mati, gerakan perubahan yang anda lahirkan ini menuntut untuk anda kawal dan kritisi, bukan hanya sekedar berani melahirkan, karena sesungguhnya harapan besar rakyat berada dipunggung kalian? Wallahua’lambissawab.

 Penulis adalah Sekretaris DPD KNPI Indragiri Hulu*

Loading Facebook Comments ...
Loading Disqus Comments ...